BALI — Data tersebut dikutip detikINET dari 9to5Google, Kamis (10/9/2026). Selisihnya cukup signifikan ketika disandingkan dengan Google Pixel 11 Pro Fold, Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra, dan Galaxy Z Fold 8 yang rata-rata berada di bawah 240 gram.
iPhone Duo lebih berat 15 gram dibanding Google Pixel 11 Pro Fold yang berbobot 239 gram dengan ketebalan 10,1 mm. Selisihnya melebar saat dibandingkan Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra yang hanya 215 gram dan setebal 8,9 mm, atau 39 gram lebih ringan.
Jarak paling jauh terlihat pada Galaxy Z Fold 8. Ponsel lipat Samsung itu berbobot 201 gram dengan ketebalan 9,7 mm, artinya iPhone Duo lebih berat 53 gram dan lebih tebal 1,6 mm.
Berikut perbandingan lengkap dimensi dan bobot keempat perangkat:
Ketebalan sasis iPhone Duo disinyalir berkaitan dengan dukungan stylus Apple Pencil. Komponen tambahan untuk mendeteksi dan mengisi daya pena digital menuntut ruang internal lebih besar dibanding perangkat yang mengorbankan fitur serupa.
Samsung mengambil arah berlawanan. Perusahaan asal Korea Selatan itu menanggalkan dukungan S Pen sejak meluncurkan Galaxy Z Fold 7 demi mengejar desain ekstra tipis dan ringan.
Bahkan Galaxy Z Fold 6 yang jadi lini terakhir Samsung dengan dukungan S Pen tetap lebih ringan dari iPhone Duo. Ponsel rilisan 2024 itu memang tebal 12,1 mm, lebih gemuk 0,8 mm, tetapi bobotnya tidak melewati 254 gram.
Manager Departemen Riset dan Pengembangan Samsung, Hee-Cheul Moon, menyebut bobot sebagai faktor paling krusial dalam merancang ponsel lipat. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan Wired.
"Bobot merupakan faktor paling krusial dalam merancang ponsel lipat," kata Hee-Cheul Moon.
Menurut Samsung, merancang ponsel lipat yang ringan bukan perkara mudah. Meski demikian, menurunkan bobot perangkat dianggap metrik terpenting untuk meningkatkan nilai guna dan pengalaman pengguna saat memakai ponsel lipat sehari-hari.
iPhone Duo tetap membawa sejumlah daya tarik, mulai dari teknologi kamera bawah layar, transisi layar yang mulus, hingga dukungan Apple Pencil. Kombinasi ini menempatkannya sebagai perangkat produktivitas, bukan sekadar ponsel lipat konsumsi.
Namun bagi pengguna Indonesia yang terbiasa menyimpan ponsel di kantong celana atau menggenggamnya satu tangan saat commuting, tambahan 39-53 gram bisa terasa nyata. Apalagi harga foldable umumnya berada di segmen premium, sehingga ekspektasi terhadap kenyamanan fisik ikut naik.
Era ponsel lipat yang selama bertahun-tahun didominasi ekosistem Android kini punya pemain baru. Pertanyaannya, apakah pengguna Apple bersedia menukar keringanan bodi demi ekosistem dan Apple Pencil, atau justru menuntut generasi kedua yang lebih ramping.