Erupsi Anak Krakatau Muntahkan Lava Fountain, Radius Bahaya Tiga Kilometer Disterilkan

Penulis: Gilang Permana  •  Sabtu, 05 September 2026 | 12:07:31 WIB
Lava pijar terlihat menyembur vertikal dari kawah Gunung Anak Krakatau saat erupsi berlangsung.

BALI — Video amatir yang beredar memperlihatkan muntahan lava pijar yang menyembur vertikal dari kawah Gunung Anak Krakatau. Fenomena lava fountain ini terekam warga saat erupsi berlangsung, menambah eskalasi aktivitas vulkanik di kawasan yang sama dengan letusan dahsyat yang memicu tsunami Selat Sunda pada Desember 2018.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama PVMBG mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat mensterilkan seluruh aktivitas dari radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif. Ketentuan ini berlaku mutlak mengingat potensi bahaya yang mengancam keselamatan jiwa.

Kolom Abu Diprediksi Menjulang hingga Belasan Kilometer

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan semburan asap tebal dari erupsi kali ini mencapai ketinggian yang signifikan. Proyeksi menunjukkan kolom abu berpotensi menyebar hingga ke sejumlah negara tetangga, mengingat arah angin yang bertiup di atas Selat Sunda.

Estimasi belasan kilometer tersebut menjadikan erupsi ini salah satu yang tertinggi dalam periode aktivitas terkini gunung yang terletak di antara Jawa dan Sumatra itu. Masyarakat pesisir di kedua pulau diminta mewaspadai potensi hujan abu tipis apabila arah angin berubah menuju daratan.

Durasi Erupsi dan Status Siaga yang Berlaku

Aktivitas erupsi yang terekam berlangsung nyaris dua hari, dimulai Jumat (4/9) hingga memasuki Sabtu (5/9) dini hari. Rentetan letusan ini menegaskan status Level III (Siaga) yang saat ini disematkan pada gunung api yang tumbuh di atas kaldera purba tersebut.

Pada status siaga, eskalasi dapat meningkat sewaktu-waktu menuju level tertinggi. Masyarakat yang bermukim di sekitar pesisir Selat Sunda diimbau untuk tidak terpancing rumor serta memantau informasi resmi dari PVMBG dan BNPB.

Imbauan sterilisasi radius tiga kilometer menjadi acuan utama bagi warga, nelayan, serta wisatawan yang kerap beraktivitas di sekitar kawasan konservasi tersebut. Seluruh pihak diminta menaati batas aman yang telah ditetapkan untuk menghindari risiko fatal dari luncuran awan panas maupun material pijat.

Potensi bahaya sekunder berupa gelombang tinggi juga menjadi perhatian otoritas setempat. Meski belum ada laporan korban jiwa, kewaspadaan terhadap dinamika gunung yang berada di jalur pelayaran padat Selat Sunda ini terus ditingkatkan.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top