Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mendorong 45 pelaku UMKM binaan sektor wastra dan kerajinan untuk memperluas pasar hingga tingkat nasional dan global melalui pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI). Langkah ini diambil di tengah pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 5,78 persen pada triwulan II-2026, di atas rata-rata nasional.
DENPASAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menggandeng puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaannya untuk menembus pasar yang lebih luas. Lewat ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI), sebanyak 45 UMKM sektor wastra dan kerajinan diberi ruang pameran secara daring, sementara 18 lainnya mengikuti koneksi bisnis langsung dengan konsumen dan investor potensial di Jakarta hingga Minggu (23/8).
Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani menyatakan partisipasi ini menjadi strategi untuk memperkuat jejaring bisnis sekaligus mendorong daya saing pelaku UMKM di kancah nasional dan global. Ia menegaskan bahwa produk-produk yang ditampilkan merupakan usaha yang sudah berorientasi ekspor atau memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional.
UMKM yang terlibat tidak hanya bergerak di sektor wastra, tetapi juga memproduksi perhiasan, aksesoris, hingga produk desa wisata. Selain itu, terdapat pelaku usaha makanan dan minuman olahan yang turut berpartisipasi melalui sistem toko ritel dalam pameran tersebut.
Para pelaku usaha ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk dan menjaga konsistensi produksi. Hal ini dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin kompetitif, baik di tingkat domestik maupun mancanegara.
Langkah ekspansi pasar ini dilakukan di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat krisis geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, perekonomian Bali pada triwulan II-2026 menunjukkan kinerja yang kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,78 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 5,58 persen.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen. Hal ini menunjukkan fundamental ekonomi daerah yang solid, didukung oleh sektor pariwisata dan UMKM yang menjadi penopang utama.
Di sisi lain, inflasi Bali pada Juni 2026 tetap terkendali di angka 3,27 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen. Namun, Achris mengingatkan agar capaian ini tetap menjadi perhatian serius supaya tidak melewati batas target yang ditetapkan, yaitu 1,5 hingga 3,5 persen.
“KKI ini sebagai langkah strategis untuk mendorong pengembangan UMKM yang berkelanjutan, berdaya saing, serta berbasis kekayaan budaya Nusantara,” imbuh Achris. Dengan adanya pameran ini, diharapkan geliat ekonomi Bali semakin menguat dan pelaku UMKM mampu bertahan di tengah tantangan global yang ada.