Kelas Jurnalisme Warga di Desa Adat Guliang Kangin Bangli, Mengulik Sejarah Kerajaan Gelgel hingga Dilema Pariwisata

Penulis: Gilang Permana  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:24:31 WIB
Peserta Kelas Jurnalisme Warga mengikuti kegiatan di Balai Banjar Guliang Kangin, Desa Tamanbali, Bangli, Bali.

BANGLI — Di tengah hamparan sawah yang masih hijau di Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, terdapat sebuah desa adat yang menyimpan cerita panjang tentang perjalanan kekuasaan di Bali. Enam desa adat menaungi wilayah seluas 657 hektare ini, salah satunya adalah Desa Adat Guliang Kangin yang baru-baru ini menjadi lokasi Kelas Jurnalisme Warga (KJW) BaleBengong.

Kegiatan yang digelar di Balai Banjar Guliang Kangin ini diikuti oleh sembilan muda-mudi STT setempat. Mereka diajak untuk menggali potensi dan sejarah desanya sendiri, sebuah proses yang ternyata membuka wawasan baru bagi para peserta.

Dari Tambangwilah hingga Guliang: Jejak Raja Terakhir Gelgel

Para peserta KJW mengaku baru mengetahui bahwa Desa Adat Guliang Kangin memiliki hubungan historis yang kuat dengan Kerajaan Gelgel. Sebelum dikenal sebagai Guliang, wilayah ini bernama Tambangwilah dan penduduknya memiliki keterkaitan dengan pusat kekuasaan di Tamanbali, Brasika, dan Gelgel.

Kisah bermula ketika Ida Dalem Dimade, raja terakhir Gelgel, dikisahkan sering berburu hingga ke wilayah Tambangwilah. Setelah konflik terjadi di Gelgel, ia meninggalkan istana bersama pengikutnya ke Desa Blahpane.

Kondisi Ida Dalem Dimade kala itu disebutkan menurun. Ia kemudian pindah ke Desa Tambangwilah bersama dua putranya. Di tempat inilah ia mandi di Pancoran Solas dan kesehatannya berangsur membaik. Sejak saat itu, nama Tambangwilah diubah menjadi Guliang, berasal dari kata 'guh' yang berarti menyebabkan dan 'liang' yang berarti senang atau nyaman.

Pura Agung Dalem Dimade dan Warisan yang Terjaga

Setelah Ida Dalem Dimade wafat, masyarakat Guliang dan para pengiringnya yang masih tinggal di sana dipercaya untuk merajanya. Tempat suci tersebut kini dikenal dengan nama Pura Agung Dalem Dimade.

Kesadaran akan sejarah ini mendorong para peserta KJW untuk membuat karya yang mengangkat sejarah desa, kisah Pancoran Solas, hingga sejarah Pura Agung Dalem Dimade. Selain itu, salah satu peserta juga mengangkat potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik warga, yakni pembuatan jaje uli dan jaje begina, jajanan tradisional Bali yang kerap hadir dalam upacara yadnya.

Dilema Pariwisata di Tengah Lahan Pertanian Subur

Meskipun kaya akan sejarah, Desa Adat Guliang Kangin menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pengembangan pariwisata. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan menghabiskan banyak waktu di sawah, dengan irigasi subak yang masih terjaga baik.

Letaknya yang dekat dengan Kabupaten Gianyar, salah satu pusat industri pariwisata Bali, ternyata tidak membuat desa ini tergiur. I Wayan Ariyana, Pelaksana Tugas (Plt) Kelian Banjar Guliang Kangin, mengungkapkan kesulitannya mengembangkan pariwisata di desa adat tersebut.

Ia menyebut banyaknya ritus suci yang dimiliki masyarakat adat menjadi pertimbangan utama. "Ada ketakutan masyarakat adat jika nantinya tempat itu menjadi kawasan pariwisata, masyarakat di sana hanya menjadi penonton saja," ujarnya.

Anak Muda Lebih Pilih Kapal Pesiar daripada Sawah

Di sisi lain, minat generasi muda Desa Adat Guliang Kangin justru tertuju pada industri pariwisata. Dalam setahun terakhir, Ariyana mengungkapkan banyak anak muda desa yang berangkat ke luar negeri maupun bekerja di kapal pesiar.

Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya partisipasi anak muda dalam pelestarian budaya dan pengelolaan potensi desa. Padahal, regenerasi menjadi kunci agar sejarah dan tradisi Desa Adat Guliang Kangin tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: balebengong.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top