Koster Resmi Buka Bulfest 2026 di Singaraja, Apresiasi Tiga Maestro Tari dan Dorong Ekonomi Kreatif Buleleng

Penulis: Gilang Permana  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19:31 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan piagam penghargaan kepada tiga maestro tari asal Buleleng dalam pembukaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026 di Singaraja, Selasa (18/8) malam.

BULELENG — Tiga maestro tari asal Buleleng menerima piagam penghargaan dari Gubernur Bali Wayan Koster saat pembukaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026. Mereka adalah Ni Luh Sustiawati, Luh Herawati, dan Ni Luh Menek, yang dinilai konsisten melestarikan serta mengembangkan seni tari tradisional di kabupaten ujung utara Bali itu.

Penghargaan diberikan di hadapan warga yang memadati kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Selasa malam. Ajang yang berlangsung hingga 23 Agustus ini tidak hanya menampilkan atraksi seni, tetapi juga menghadirkan kuliner, kerajinan, dan produk UMKM sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Infrastruktur Penghubung Bali Utara-Selatan Dikebut

Di sela sambutannya, Koster menyampaikan sejumlah agenda strategis yang tengah berjalan di Buleleng. Pembangunan shortcut titik 9–10 akan dilanjutkan hingga titik 12, menyusul pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang dan sejumlah pelabuhan lain di kawasan utara Bali.

Ia memperkirakan rampungnya proyek infrastruktur tersebut pada 2029 akan memangkas waktu tempuh dari Denpasar ke Buleleng menjadi sekitar satu setengah jam. Selain itu, pengembangan kawasan ekonomi di Kecamatan Gerokgak dan pembangunan tahap kedua Turyapada Tower juga menjadi prioritas.

"Kita harus menunjukkan komitmen kita sama-sama untuk memajukan Buleleng. Saya mohon guyub, bersatu menjaga Buleleng dan Bali agar tetap kondusif," tegas Koster di hadapan warga Singaraja.

Budaya adalah Napas Masyarakat Bali

Koster mengingatkan pentingnya menjaga seni, tradisi, dan kearifan lokal di tengah arus perubahan zaman. Menurutnya, budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali sehingga harus dirawat secara konsisten.

"Budaya tidak akan pernah mati, karena budaya adalah jiwa kehidupan kita, napas masyarakat Bali. Jaga dengan konsisten dan serius sepanjang masa," ujarnya. Ia juga mendorong generasi muda untuk terus berkreativitas agar regenerasi seniman berjalan berkelanjutan.

Makna "Uriping Rasa" bagi Warga Buleleng

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menjelaskan, tema "Uriping Rasa" mengandung pesan bahwa budaya akan tetap hidup selama rasa di hati masyarakat terus menyala. Festival ini menjadi ruang bersama untuk menghidupkan ingatan, identitas, dan rasa memiliki terhadap kebudayaan Buleleng.

"Uriping Rasa mengajak kita menjaga rasa hormat kepada leluhur, cinta pada tanah kelahiran, kebanggaan identitas, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, serta tanggung jawab mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya," jelas Sutjidra.

Ia menegaskan, perubahan zaman tidak berarti tradisi harus ditinggalkan. Sebaliknya, tradisi harus menemukan ruang baru agar tetap relevan dan diterima generasi masa kini. Selama enam hari penyelenggaraan, Bulfest 2026 menghadirkan nuansa Singaraja tempo dulu untuk memperkuat identitas dan karakter Buleleng.

"Marilah kita hidupkan rasa, hidupkan budaya, dan bersama membangun Buleleng yang semakin maju, berbudaya, dan berkarakter," pungkasnya.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: diksimerdeka.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top